Senin, 26 Desember 2011

<(**)> Manuscript I fells  <(**)>

Often I saw Manuscript
Very eager seen, Frolic here and there together
Fused affection, make a term cooperation, give a signification together

But, what I see is
I see that is you butterfly
Beauty to fell but so sorry I can’t do

If your intimacy is like butterfly
Really, I am not loss to loving you
Although is only as limit as hearth with stamping hand

Because of you it’s drug
Likes butterflies which gave a drug
Those are the nice honey, as nice as your hearth butterfly

Pardon me, I have loved you by far…













<(**)> Naskah Yang Aku Rasakan <(**)>

Sering aku melihat naskah
Asik sekali bercengkrama kesana kemari berdua
Memadu kasih, menjalin kerja sama, saling mengerti

Tapi apa yang aku lihat
Aku melihat itu adalah kamu kupu
Indah rasanya tapi sayang aku tidak bisa

Jika kemesraanmu seperti kupu
Sungguh, aku tidak rugi mencintaimu
Walau sebatas hati bertangan buntung

Karena memang kamu obat
Seperti kupu-kupu yang memberikan obat
Yaitu madu yang manis, semanis hatimu kupu

Maaf, aku telah mencintaimu dari jauh…


Selasa, 06 Desember 2011

~ Maaf Ukhti..., Ana Telah Ternoda ~

Dengan segala noda-noda yang ada pada diri ana. Sekiranya menjadi bahan pertimbangan yang matang ukhti. Agar, tidak ada penyesalan dikemudian hari. Karena ana tidak ingin ukhti nanti kecewa dan menyesal dengan kenistaan yang ana miliki. Ana merasa, ana itu buruk buat ukhti. Maka ana tidak ingin ukhti menjadi sakit hati karena keburukan yang ana milki. Bukan maksud ana membuat ukhti canggung dan ragu, tapi ana ingin ukhti tahu tentang diri ana sebelumnya. Supaya tidak ada penyesalan dikemudian hari.

Ana sadar, ukhti wanita sholihah... sedangkan ana laki-laki penuh noda. Kalau ukhti mau mengurungkan niat ukhti menikah dengan ana, dengan Ikhlas ana siap untuk membatalkan ini, karena bagi ana... yang terbaik bagi ukhti juga merupakan yang terbaik buat ana. Kalau ukhti senang dengan keputusan ini, begitu pula ana pun ikhlas. Jadi jangan risaukan hati ana ukhti. Insya Allah hati ana ikhlas...

Maaf Ukhti..., Ana Telah Ternoda. Bagi ana... Ukhti adalah permata yang indah. Mudah-mudahan menjadi permata sampai ke surga... cuman pesan ana jagalah permata ukhti. Karena ana sayang dengan permata yang ukhti milki, karena ana merasa tidak tega kalau permata ukhti berubah jadi hitam, bukan putih yang berkilau penerang hati. Mudah-mudahan ukhti selalu dalam lindungan Alllah SWT dan menjadi umatnya yang Sholehah. Agar ukhti menjadi ratu bidadari. kemudian menjadi suami ukhti yang kekal sampai ke surga.

Kalau ana banyak salah... maafkan ana ukhti. Doakan agar ana bisa mendapat istri impian seperti ukhti. Karena ukhti adalah cerminan bagi calon istri ana.

Syukran 'alaiki ya ukhti. Ma'assalamah 'ala hayatuki...

Lastu Rajulan Kama Aradti ya Ukhti

Banyak sekali bintang-bintang dilangit yang selalu bersinar dengan cantiknya dan akan selalu menghiasi malam. Dari satu malam ke malam berikutnya sampai pada batas akhir nantinya atas ketentuan dan kekuasaan ilahi rabby. Begitu indah kuasa Allah SWTmenciptakan Langit dengan isinya, yang semuanya hanya untuk umat manusia, baik yang beriman maupun tidak. Langit sebagai atap, bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai tiang. Mudah-mudahan keberkahan menyertai kita.

Syukran 'ala ni'matillah, yang telah memberikan segala nikmatnya secara cuma-cuma. Bayangkan seandainya nikmat itu dibeli. Mungkin ada tuntuntan untuk umat manusia untuk kaya, karena kalau tidak, maka seketika itu dia akan mati. Sungguh, hati ini tidak berdaya untuk menghindar dari segala kenistaan dunia yang begitu sempit oleh cahaya ilahi rabby. Tak jarang manusia-manusia modern jumpai, sulit bagi mereka untuk menghindar termasuk ana untuk menghindar.

Ukhti... telah ukhti dengarkan betapa karunia Allah yang telah diberikan pada umat manusia dan sedikit yang mensyukurinya. Ana "laysa al-muslim kama aradti". Karena jiwa ana selalu melanda kekotoran. Kurang bisa menjadi muslim sejati, jiwa ana tidak baik untuk ukhti, terlalu sayang jika ukhti memilih ana. Maka pertimbangkan dahulu ya ukhti atas pendirianmu. Jangan hanya mengandalkan karena suka shalat ukhti jadi menyukai, jangan hanya mengandalkan karena sopan ukhti tertarik, dan jangan mengandalkan karena baik tutur katanya ukhti tergoda. Tapi Ukhti harus tahu kekurangan dan kelebihan ana secara mendalam, baik lahir maupun batin, supaya ukhti ikhlas pada nantinya.

Tampanku hanya sebatas tampan biasa, karena dibalik ketampanan ana banyak kelemahan yang menggrogoti jiwa ana "Mudah-mudahan Allah selalu melindungi". Ukhti harus tahu bahwa "Shalatku tidak pernah khusu, amalku selalu tidak ikhlas, dan pengabdianku selalu melenceng dari koridor yang Allah tetapkan", maka sungguh ana tidak tega kalau nanti sama ukhti. Karena buat ana ukhti sangat berharga. Maka ana tidak tega kalau benda yang berharga dibeli dengan harga yang murah. Sekiranya ukhti mengurungkan niat, masih ada jalan bisa ditempuh. Jangan salah ambil, karena ini untuk memelihara diri ukhti dari keburukan yang mungkin terjadi. Lastu rajulan kama aradti ya Ukhti

La tandzuri ilayya ya ukhti min jihatin wahidatin bal kulllu jihatin tandzuriina. Jangan sampai ada keterpaksaan pada akhirnya. Tanamkan rasa diri percaya dahulu sebelum bertindak. Jauhkan prasangka buruk, karena pada dasarnya keburukan itu benar adanya tapi ambillah pelajaran yang bisa diambil hikmah dari keburukan itu.

Syukran jazilan ya ukhti 'ala istima'iki... jazakillah khairan min qabl... Amin ya rabbal 'alamin...

Sabtu, 26 November 2011

--((())-- Menembus langit --(())--

Sering kali ku melihat ke atas langit, jikalau siang yang ku lihat hanyalah warna tapi kau ada. Jikalau malam yang ku lihat hitam melekat dihiasi oleh bintang-bintang tapi kau juga ada. Apa gerangan yang membuatmu ada?. Jawabku itu memang ada, karena kau memang ada, bukan dibuat, buka pula direkayasa. Tapi ada....

tapi yang membuatku heran. Kenapa ada?. Sedangkan ku tidak pernah mengadakan sebelumnya. Aku hanya mengada bukan yang mengadakan dan bukan yang membuat janji yang mengadakan. Setelah ku sadari, ternyata memang kekuatan untuk menghafal kecantikan itu memang tajam, itu mungkin karena itu kau ada...

Sering kali ku terdiam dan membisu, ingin ku membedah langit, biar keyakinanku tidak sia-sia dan tidak ada keraguan yang menghadang. Supaya ku tidak berlama-lama dalam kesepian, karena yang diharapkan ada keramaian di sana, yang bisa menjadikan hari-hari terasa mengisi, menasehati, dan memotivasi dalam satu lingkungan.

Amin ya rabbal 'alamin... Menembus Langit

Senin, 21 November 2011

>>> Menawan 

Bibir hanya alat untuk bicara
tapi untuk membuktikannya belum tentu bisa
membantu sang permata hati dalam dada
untuk mengucapkan, kau memang MENAWAN

Siapakah aku, yang berhati kelu 
tidak kuasa menuangkan dalam bibir
untuk sekedar saja berucap dan berimpati
Suapaya kau tau kau itu menawan

Kenapa, sulit terasa, dalam bibir
hati menjadi kacau karena menawan
sehingga meranalah dalam kesepian
penambat hati tak kunjung jua

hanparan sajadah menjadi saksi bisu
mengharapkan keridhoan ilahi rabbi
menghias dan menghibur sanubari
diantara masjid yang kokoh pagai ini 

Pagi hari, 22/11/2011
 
--> Imagi Yang Terbelenggu 
Kulihat kau dari balik pintu
wajah nan ayu mendayu-dayu
seakan-akan kau ada didekatku
sehingga terpanalah aku karenamu

sepi menikam membuatku indah
tatkala kau hadir tanpa senda
hanya senyuman tipis dibalik bibir
tapi untuk siapa itu....................

kadang kecemburuan menggoda
hanya aku yang boleh mendapat senyummu
sedangkan aku hanya bisa terpaku...........
diantara tetesan hujan sore ini


Hujan sore, 18/11/2011

Minggu, 13 November 2011

>)))> Menunggu 
Disini
aku mengunggu, yah menunggu
menunggu datangnya bidadari turun
karena aku sangat lelah menunggunya
tapi demi ingin bertemu ku tak peduli

sampai kapan pun aku akan menunggu
walau kadang godaan menghalang
untuk beranjak pergi dari menunggu
tapi aku tepis dan lawan godaan itu

Karena,
ku sangat rindu, ingin bertemu dan bertemu
kapan pun bidadari mau turun aku tuggu
tapi maafkan aku, karena aku menunggu
dengan wajah yang layu, letih dan lesu

Doaku, bidadari tidak kecewa
pada saat
turun menemuiku nanti
wajahnya selalu senyum tanpa kecut dibibir
Amin ya rabbal 'alamin...................................
Malam, 12/11/2011
 

Chat dengan saya

<embed id="pingboxhyjwsw52stw00" type="application/x-shockwave-flash" src="http://wgweb.msg.yahoo.com/badge/Pingbox.swf" width="220" height="400" flashvars="wid=QuL5NxG2Qmxkctj0fkoo_s_jZC4M" allowScriptAccess="always" />

Jumat, 11 November 2011

Sayap Kiriku 
Dimana sayap kiriku
Masih saja gelap
Kenapa masih gelap
kan aku butuh cahaya
buat mencari dimana
sayap kiriku

aku butuh sayap kiri
biar ada keseimbangan
untuk terbang
mengarungi
mengelilingi
bersama
dalam suka maupun
duka yang menyapa

Oh sayap kiriku

Malam, 11/11/2011
 

Kamis, 10 November 2011

((()))  The Sweetie Hope
Forgive me for my decrease and my stupid. Because of my stupid, I brave to give expression my hearth contains. So, prison me in the sorrow bespattered and fuller remorse. Since it, why the world is narrow. When I fallen into a big desire, which I thought clear but turn out to be cloudy and dark and finally rainy bathed.

Usually and never need to stop the hearth is scream, full forces in the praying.

* “Oh Allah, is she not suitable to be my affection, whereas I was so much hunger as sincerely as possible of my hearth. Am I not best for her until you throw out me as you like, so the hope be present usually, or you has prepared the formal for”

* If it is fate that must I guaranteed, I can’t force, but please help me, don’t be planted in the hearth a hope to be live together. Because, really, it’s very painful, more than be abusive word only, be gibed, and be slopped simply. If I am a slave you hated. Then, hate me now. So long as the beyond was loved by you, as you loved your prophet, your honey, and your dearest to Prophet Muhammad SAW….!

Sincerely,

* If the hearth is still hanged to her. I am not to force, either to bill promise. But, as solve is only given a way of you, open way, open the doors of your need it by full of your love and affection. Not out of your pity or out of I often complain and sad.

* But, if the hearth is ready to lost of the taste and the desire to. As a solve forced, pardon me. Don’t ever more or again, you present back but change it by best than before. Don’t ever of situation is flash back. Frank, I hate it, I don’t like the situation… because my pray “Give and became to me as a human that you missed and loved as my soul mate moment, enough you as protector.

For the soul mate***

* Really not of there a force, Only the hearth wriggle usually while the night coming. You are present usually, moreover I felt a sick, not to comforter, and so not for closing the swift water in the soul. Pardon, my eyes couldn’t swift sorrow usually, but my soul, usually swift the sorrow, which hoped to you to wipe. I realized and knew “It is impossible” but that is the happen after pas. Pardon me, who already to miss your love, I hope you are understand.

Alright for my God, a ruler of heaven and earth “ Allah SWT”

* I leave everything to you. Only hope and complain I could, the next is you decide. My hope is only one “ far me from the ill hearth” Amin… ya rabb.

Thanks, 30/10/2011

Senin, 31 Oktober 2011

"SELIRAMU"


Janten was-was marang seliramu
sing dikarepke awakmu niku awakku
tapi kepripun malih, mpean mboten kerso
nggih kulo mboten biso mekso

namung, ati terlanjur tresno
jalaran sampun kapekso neng jero dodo
kulo nggih sadar, mpean niku sopo
nopo malih kulo nggih sopo...

tapi mboten nopo-nopo...
mungkin niki salahku sing mekso
mboten ati-ati marang saliramu penambat ati
soale kulo sampun mboten kiat marang seliramu...

Ngapuro yo cah ayu...?

IMD, 31/10/2011

Minggu, 23 Oktober 2011

Lika-Liku Kisah Petualangan Mencari Cinta 
 
Waktu begitu cepat berlalu rupanya, tak terasa, dulu aku masih asyik dan senang bermain petak umpat dengan teman-teman. Baik waktu siang maupun malam ketika mengaji di masjid atau ketika ada acara Maulid nabi Muhammad SAW. Kami, yang masih anak kecil sangat senang ketika ada acara Maulid Nabi atau acara yang lain. Kami senang bukan karena mau mengaji atau menyimak pengajian itu, maklumlah masih anak kecil, inginnya main… terus, tidak kenal waktu, yang ada di otak kami Cuma bermain dan bermain sperti yang di acara TV sekarang “Si BOLANG” dan acara yang lain. Asyik kan kalau melihat mereka bermain. Berbagai macam mainan tradisional di mainkan… mulai dengan berenang bareng di kali, prosotan, dan main petak umpat. Sebagaimana aku dulu. Aku sangat senang sekali bermain dengan teman-temanku, entah bermain tembak-tembakan di sawah kalau lagi musim kemarau, berenang di kali, dan sepak bola di lapangan sekolah… asyik… sekali kalau mengingat waktu itu, terasa tidak punya beban.

Aku dulu adalah pengembala kambing, sebagaimana teman-temanku juga kebanyakan pengembala kambing, jadi kalau mencari makanan buat kambing, kita cari bersama-sama. Sebelum mencari rumput dan yang lainnya aku dan kawan-kawan biasanya bermain di kali untuk berenang bersama. Hal itu jadi mengingatkanku ketika itu aku hampir mau tenggelam, hampir saja, tapi salah satu temanku ada yang jago berenang… Alhamdulillah aku bisa diselamatkan… Memang diantara teman-teman Cuma aku yang tidak bisa berenang, aneh memang anak pantai ko tidak bisa berenang. Ah, mau gimana lagi, sudah berkali-kali mencoba tetap aja tidak bisa…!, Pikirku waktu itu. Bisa sih…. Cuman gaya tenggelam… heee. Mengingat masa itu, aku jadi ingin kembali ke masa itu… betapa nikmat waktu itu, eh ternyata sekarang tinggal kenangan, yang belum tentu anak, cucuku akan mengalami seperti itu. Masya Allah, memang Allah sudah mengaturnya sedemikian rapinya dan sangat unik.

Tak terasa usia semakin bertambah, aku memasuki kelas enam SD. Kalau mengingat kelas SD jaman saya sekolah sama sekarang sangat jauh sekali. Kalau dulu ketika aku sekolah SD, anak-anaknya gede-gede banget, ya kalau dibandingkan dengan sekarang mah udah SMP Kelas tiga an lah. Makanya, deket sama satu cewe sekalas aja dibilangin pacaran. Tapi kalau jaman waktu aku sekolah, kami malu-malu, apalagi kalau di gosipin pacaran, wah tambah malu sekali, kadang malah tidak masuk sekolah karena gara-gara di gosipin kaya gitu. Tapi ada juga sih yang tidak malu. Kebanyakan yang tidak malu itu, habis lulus SD langsung pada nikah… Oh my God, betapa herannya kalau mengingat waktu itu. Termasuk aku juga pernah di gosipin… hee. Eh jangan salah…!, gini-gini ada yang naksir juga loh. Namanya juga SD tau sendiri lah… malu-malu kucing.. hee. Tapi waktu itu memang aku belum begitu respon tentang hal begituan… jadi ya aku cuek aja. Eh, ternyata yang naksir malah nikah sama teman sendiri… hee. Jadi pengin ketawa “Lulus SD nikah”.

Suatu hari tidak sengaja aku dan teman-teman berbincang-bincang, mengenai masalah nikah. wah masih SD sudah ngomongin nikah, weleh weleh... Ya kenapa? Aku jawab begitu aja.  Kata temanku… Eh man, kamu sebenarnya mau nikah engga sih….?. Waduh, ko nanyanya gitu. Ya aku jawab aja “engga ah, buat apa nikah, aku tidak mau nikah sampai kapanpun” padahal dalam hati si… “Ya mau lah…. Sapa si yang engga mau nikah”. Ah serius kamu “ kata temanku”. Heee, kalau masalah serius, aku anti… takutnya nanti pengin nikah…. Jawabku. Alah… jawab aja mau, make alasan aja kamu “jawab temanku”. Bagaimana nanti lah… lagian masih kecil, sunat aja belum sudah mikirin kawin, kamu ini ana-ana bae…! Jawabku. Heee, ya kan pengin tau aja… sergah temanku segera.  

Detik-detik terakhir kami di sekolah SD.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Besok, kami akan menghadapi UN (Ujian Nasional), yang mana habis itu tentunya kami akan berpisah sama teman-teman seperjuangan, baik yang jauh maupun yang dekat, ada juga teman sekolah sekaligus teman di rumah… Ujian akhirnya selesai kami laksanakan. Aku akhirnya lulus dengan nilai nem yang pas-pasan… maklum lah, anak pas-pasan… apa-apa juga pas-pasan… tapi aku terima dengan senang hati. Sebagaimana teman-teman juga meneriman dengan senang hati. Oh iya, sebelum UN Aku di sunat dulu, jadi waktu Ujian habis di sunat, heee. Setelah itu, ada kabar… katanya ada salah satu teman ada yang mau menikah. Pasti cewe! Kataku. Benar, selang beberapa hari ada yang ngasih tau kalau yang mau nikah itu Larasati hee, sory nama samaran lupa. Besok tanggal 25 resepsi acaranya. Salah satu temanku nanya, Muslih namanya. “Man, kowe arep teka ora maring acarane pernikahan Laras”. Mbuh lih, aku bingung… apa pantes dewek kondangan, wong biasane be kondangan sepitan.. jawabku dengan santai. Muslih juga kebingungan ternyata. Ya wes, ora usah teka bae lah ya… isin…!. Ya kue, aku bae be isin…!. Ya wes lah ora usah teka, mengko malah darani apa… aku menimpali kata muslih.

Setelah aku menerima ijazah, aku pun akhirnya pindah ke rumah eyang, disana aku melanjutkan sekolahku di SMP YA BAKI II KESUGIHAN.

If You're The One

In silence,
I always remember you ...
In the far distance,
I'm always thinking bout you ...
In common parlance,
It's very difficult to tell you
or show how great my feelings to you...
One moment, let the time answers
That you're, the one in my heart ...  

I just believe in God
and entrust you to Him

I'm sure,
if you're the one
you will come back to me

*It may not seem like I dont care
because I'm not showing it,
but inside there are so many thoughts
that you will never know of*

Sabtu, 22 Oktober 2011

:: Tega ::

Tega
      ga
         ga
            ga
                ga
                    ga
                       ga
                          ga
                              ga !
sekali..............................!
huh pait, mbae wonten penaware mboten jamue...
...................................................................?
waduh mba mas mboten enten penaware...
....................................... niki khusus mas....!
mase nyuwune niku....................... ya kulo kasih niku
iya..., tapi sing wonten penaware kali......!
Ah mbae tega banget....!
Oh nyuwun sewu mas.... kulo salah ngasih jamue...
Oh... pantesan... piye toh mba... mba...
Nyuwun sewu yo mas yo............................ ......!
Nggih sami-sami... awas ampun keleru malih.... upami
kulo tumbas maleh....
nggih mas..... monggo....
ya monggo.........
 -::-  Jangan Bersedih 
Seperti dalam lamunanku dulu....
aku ingin kau hadir selamanya didepanku
bukan untuk sekedar, tapi untuk selamanya
karena itu yang terbaik menurut aku

bila,

harus memaknai arti kata berulang-ulang
ujung-ujungnya belum tentu mengenang disanubari
sedangkan aku butuh kata yang tersimpan dan dijaga
jangan sampai kepercayan menjadi kotor oleh setetes tinta

Kalu,

waktu diulang kembali, belum tentu seperti dulu lagi
lebih baik menata waktu yang ada agar lebih baik dari sebelumnya
Supaya ada kehidupan disana, bukan sekedar impian tapi realita
atas kepercayaan yang mungkin kita tumbuhkan bersama-sama

kalaulah,

berjauhan, kenapa harus menagis.....
kan ada Allah yang selalu menjaga dan melihatmu
maka mintalah perlindungan kepadanya agar tambah yakin
kemudian meminta agar menjadi pribadi yang sholehah

Ingat, jodoh ditangan sang Khalik....
kalau beliau menginginkannya pasti terjadi..

Rabu, 19 Oktober 2011

-::- Tahajud Cinta Seorang Pemuda
 Bismillaahirrahmaanirrahiim

Yaa Allah...
... Aku ingin bercerita sedikit tentang kegundahanku akhir akhir ini.
Aku merasa Engkau telah mengacuhkanku, dan aku tidak menghendakinya pula...
Karena aku juga mencintai-Mu...

Jujur aku malu, namun setelah aku fikir kembali
Aku harus mengatakannya, meski Engkau tlah mengetahuinya sebelumku bercerita.
Aku harus utarakan ini, karena aku harus menjelaskan kesalah pahaman ini secepatnya.

Yaa Allahku...
Saat aku terjaga dari tidurku kemarin malam.
Kusaksikan wajah teduhnya begitu menentramkan
Dalam tidur pulasnya, kulihat ia begitu memesonakan
Dan kuakui, sejenak hatiku tlah tertawan

Ya Allahku... wahai pemilik sifat paling rahman
Aku...
Aku...
Aku...
Ah, aku malu sekali
Aku sangat takut Engkau marah dan pergi

Yaa Allah, pemilik sifat pengampun yang tak tertandingi
Dalam tidurnya semalam, tlah kuberanikan diriku tuk mencium keningnya...
Jujur, aku pun ingin mencium bibirnya
karena kutahu ia takkan menolaknya...
Namun kusaksikan kemarahan-Mu di wajahnya
Kulihat Engkau begitu masam memandangku yang hina dina..

Wahai Allah, sang pemiliki cinta...
Aku terkadang berfikir, apakah aku salah memiliki cinta yang Engkau anugerahkan.
Aku juga berfikir, mengapa ada ketentuan untuk sebuah pertemuan
Sedang Engkau tak menyukai apa yang kami lakukan dari pertemuan yang Engkau tetapkan
Yaa Allah...
Mengapa demikian?

....
....
....
....

hhhhhhh....

Astaghfirullaahal 'adziim...
Astaghfirullaahal 'adziim...
Astaghfirullaahal 'adziim...

Ampuni aku Yaa Allah...
Hamba tlah lancang, dan tak semestinya hamba menanyakan...
Hamba terlalu naif, dengan mencari pelarian untuk kesalahan yang hamba lakukan

Tersadarlag hamba, bahwa Engkau tlah anugerahkan akal pada hamba...
Dan kiranya hamba tak menggunakannya dengan sebaik baiknya...

Yaa Allah...
Sungguh aku memohon pengertian-Mu atas perkara tak halal atasku...
Sungguh aku mengemis maaf-Mu...
Engkau Maha Mengetahui, termasuk isi hatiku...
Aku hanya mencium keningnya saja Yaa Allah, tidak lebih...!

Yaa Allah, Zat yang aku rindui
Jangan perlakukan aku begini...
Aku memahami akan kecemburuan-Mu ini...
Karena kupahami bahwa hanya nama-Mu lah yang berhak kupuji...

Yaa Allah, Zat yang aku cintai
Kumohon jangan diamkan aku seperti ini...
Aku sedih jika Engkau cuekin seperti ini...
Marahlah...
Asalkan aku bisa peroleh peluk-Mu kembali...
Asalkan aku dapat rasakan dekap-Mu lagi...

Yaa Allah...
Aku tak miliki sesuatu yang berharga untuk mengambil hati-Mu...
Karena aku tentu tak layak saing dengan pemuja-Mu yang lainnya...
Aku pun tak memiliki sesuatu yang lebih berharga dari mereka tuk merayu-Mu...
Hanya dua puluh dua sujud yang kurangkai dalam tahajjud cintaku...
Yang kurangkai bersama mutiara do'a dan pujiku...
Yang kuharapkan bisa Engkau terima Yaa Allahku...

Tak apa, jika Engkau masih memasamkan wajah-Mu...
Namun kuyakin, ada maaf yang Engkau siapkan untukku di sana...
Aku pun yakin bahwa Engkau Tahu bahwa aku sangat mencintai-Mu pula...

Ya Allah...
Demi Engkau, aku hanya mencium keningnya
Demi Engkau, kukatakan bahwa itu hanyalah kekhilafanku sesaat semata.

hhhh...

Aku tak mampu berkata banyak Yaa Allah
Maafkan Aku...
Dan buat engkau, wahai kekasih hatiku...
Maafkan aku yang menzalimimu semalam...

hhhhh....
Kiranya aku telah terpenjara dalam putaran cinta yang kubuat sendiri.....

Dari : Curahan hati Petra, Untuk Novel Kupilih Dermaga-Mu Untuk Pelabuhan Cintaku.

:: Tanda Tanya… ::


Setitik embun membasahi malam, kala waktu terus bertanya pada sang pencipta
terpandang hati yang lembut kurasa disana, tapi belum merasa kau ada
sekedar saja, penat ini terasa menghilang begitu saja
mengarungi cakrawala hitam disanubari yang lemah

Aku tak berdaya….
Bila aku harus menatap pelangi, padahal itu hiasan
Yang seharusnya aku senang dan bahagia bersama pelangi itu
Tapi entah kenapa aku malu pada diri sendiri bersama pelangi itu

Apakah ini sebuah tanda… atau sekedar ilusi….?
Tanda karena aku terlalu berharap pada pelangi itu
Atau ilusi karena aku ini orang yang suka berimajinasi tinggi
Sehingga aku berpikiran yang terlalu jauh bersama pelangi itu

Oh tidak.

Sadarkan aku, wahai Allah Rabbku, pemilik jagad raya ini
Jangan sampai hambamu ini salah arah, jalan, dan tujuan
Aku hanya hamba biasa, yang tentunya masih banyak kekurangan
Jagalah aku, dan rawatlah aku, sehingga aku tumbuh menjadi pribadi yang engkau kasihi

Kalaulah ada, sekiranya pelangi atau kupu-kupu istana yang baik buatku
Sekiranya engkau tau, mana yang lebih baik untuk memadu kasih denganmu
Semoga engkau selalu meridhai jalan-jalan orang shaleh….

Syukran, ya rabb….?

:: Doa diberikan Istri Sholehah :







Ya Allah…, sang pemilik hati para makhluk

Izinkanlah hamba mengadu kasih sayangmu, yang kadang naik kadang juga turun
Memenuhi jiwa yang termakan nafsu

Oleh,

bayang-bayang semu penyayat hati,
sekiranya baik, Maka berikanlah dan sekiranya buruk maka singkirkanlah

kau,

yang mengerti pada kebodohan hambamu
yang mengasihi atas kelalaian akan nikmatmu
yang menghargai seseorang dimatamu dan makhluk…

Ya Allah…, sang pemilik cinta kasih

Berikanlah kepada hamba cinta seorang hamba,
yang dengan wajahnya dia malu akan murkamu
yang dengan tangannya selalu berdoa untukmu
yang dengan tubuhnya selalu bersujud kewajibanmu
yang dengan kakinya selalu langkahkan untuk mencari ridhamu
yang dengan hatinya selalu berdzikir kapan dan dimanapun ia berada
yang dengan lisannya selalu memberikan pencerahan bagi yang lain
yang dengan sikapnya selalau mewarnai sekitar sekelilingnya

cara berpikir,

tidak lain dan tidak bukan selalu bersandar pada Kitabullah dan sunnah rasul
yang dengannya, menjadi penghias taman-taman surga, yang mengalir dibawahnya
sunga-sungai yang mengalir air susu, penyejuk dan mencerahkan bagi pendampingnya kelak.

Jumat, 14 Oktober 2011

Tiga Kisah Lima Sahabat

dakwatuna.com - “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah: 245)

Suatu ketika Rasulullah saw. membacakan ayat itu kepada para sahabat. Tiba-tiba Abu Darda r.a. berdiri, ia berkata, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.” Abu Darda kembali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.”

“Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda,” pinta Abu Darda r.a. tiba-tiba. Rasulullah saw. balik bertanya, “Untuk apa?” Lalu Abu Darda menjelaskan, “Aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pun yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah.” “Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Darda,” kata Rasulullah saw.

Abu Darda mengucapkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.

“Wahai Ummu Darda, wahai Ummu Darda! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!” teriak Abu Darda.

Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah saw. Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada di dalam mulut anaknya. “Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah swt. Ladang ini sudah menjadi milik Allah swt.,” ujarnya kepada sang anak.

Subhanallah! Begitulah Ummu Darda, seorang wanita yang begitu yakin rezki datang dari Allah swt. dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang begitu yakin akan janji Allah swt. Kalau saja para suami zaman ini punya istri seperti Ummu Darda, pasti mereka akan mudah saja berinfak tanpa berpikir dua kali. Kalau saja para istri zaman sekarang punya suami model Abu Darda, pasti mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Allah.

Sekarang simaklah kisah kedua ini. Suatu hari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab r.a. dikirimi harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya. “Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,” begitu perintah Umar kepadanya.

Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubaidah, ia berkata, “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, ‘Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki’.”

Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat.” Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya. “Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!.” Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.

Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar empat ratus dirham seraya berkata, “Berikan harta ini kepada Muadz bin Jabal!” Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.

Muadz memanggil hamba sahayanya. “Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis sama sekali di bagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah, lalu berkata, “Demi Allah, aku juga miskin.” Muadz berkata, “Ambillah dua dirham saja.”

Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham, lalu berkata, “Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!” Ternyata Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang pembantu kepada Umar. Kemudian Umar menangis dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”

Begitulah para sahabat ketika mendapat harta. Tidak sampai sehari harta itu diinfakkan dengan begitu ringannya.

Yang ini kisah ketiga. Munginkah kita bisa mencontohnya?

Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah r.a. pulang ke rumah dengan membawa uang sebanyak seratus ribu dirham. Istrinya mendapati raut wajah Thalhah begitu bersedih.

Sang istri bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai suamiku?” Thalhah menjawab, “Harta yang banyak ini, aku takut jika bertemu dengan Allah, lalu aku ditanya tentang dirham ini satu per satu.”

Istrinya lalu berkata, “Ini masalah yang sangat mudah. Mari kita bagi-bagikan harta ini. Bawalah harta ini dan bagikan kepada para fakir miskin yang ada di Kota Madinah.”

Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu di sebuah wadah, lalu membagi-bagikan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu ia kembali ke rumah dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam keadaan bersih dan suci.”

Subhanallah! Sungguh mereka orang-orang langit yang ringan melepas dunia

Jumat, 20 Mei 2011

-::- Sayup-sayup Kehidupan

Sejenak aku heran, sejenak aku bingung, dan sejenak aku bosan. Melihat kehidupan semakin hari semakin rapuh di terpa oleh nilai-nilai adat yang tercampur dengan kepuasan nafsu, amarah, iri dan dengki. Berbagai macam perlik kehidupan sudah tidak memandang busuk atau tidaknya. Sebuah harapan jadi sia-sia bagi orang beriman dan sebuah kemenangan bagi orang sesat. 

Mentari pagi perlahan-lahan naik di sebelah timur, mengeluarkan segenap cahaya menyinari bumi yang penuh dengan fenomena, kemudian tiba-tiba awan datang menyelimuti sebagian alam, maka timbulah hujan. Sebagian orang menyambut gembira dan sebagian yang lain menyambut dengan sedih. Orang-orang yang menyambut gembira itu tidak peduli dengan apa yang dibuatnya, mereka hanya peduli terhadap sesama, sehingga berbagai macam cara mereka lakukan untuk mendapatkanny, baik buruknya tidak diperdulikan oleh mereka. Kemudian kehidupan mereka berubah, kehidupan yang enak, berbagaia macam kebutuhan terpenuhi, namun selang beberapa waktu kemudian musnah binasa dengan seketika. Akhirnya, orang-orang yang sedih jadi tertawa, mereka terhibur dengan perilaku orang-orang yang menyambut dengan gembira, seolah-olah meraka habis menyaksikan parade Opra yang baru di pentaskan. 

“Ha ha ha” aku jadi ikut tertawa. Apakah ini sebuah hinaan? Atau sebuah sindiran sebagai orang yang sedih. Ah, siapa bilang?. Aku tidak menertawakan mereka, Aku hanya mengekspresikan jiwa yang terpendam, apa itu salah?. 

Kini pandanganku berpindah haluan. Aku melihat patung hidup, bergerak kesana kemari tanpa malu memakainya, sehingga aku sendiri malu untuk melihatnya. Kenapa patung itu bisa berpakaian seperti itu, berbuat yang seharusnya tidak diperbuat olehnya, apakah mereka tidak sadar? atau memang cara seperti itu hidup mereka?. Aku bingung untuk menilai gaya patung itu, karena ada dua pilihan kategori yang harus aku pilih, dari segi norma atau adat?. Kalau aku lihat dari segi Norma jelas, itu melanggar etika norma keagamaan, kalau aku lihat dari segi adat, dari manakah adat istiadat seperti itu?. Aneh kenapa adat seperti itu, yang patung ambil. Kadang aku sendiri berpikir, apa yang akan mereka pertanggung jawabkan untuk menebus cara hidup mereka? apakah mereka bisa selamat.

Kini norma, etika, dan kesopanan hanyalah symbol. Orang-orang mengatakan “kamu deso, katro, kuper” kalau tidak mengikuti perkembangan zaman. Kemudian mereka bergaya tanpa bercermin, seolah-olah dirinyalah cerminan dari yang lain. Ketika symbol bicara, mereka jadi tuli, acuh tak acuh dengan apa yang mereka buat, padahal mereka sadar. Di luar sana setan menari-nari dengan senangnya, mereka tidak perlu susah payah lagi untuk menggodanya. Sekarang mereka benar-benar lalai akan kewajibannya sebagai makhluk dimuka bumi, bertindak sesuka hati, sikat sana sikat sini asal bisa mereka dapatkan. Sungguh malang nasib orang-orang itu. Kini mereka dalam kesengsaran. 

Kini aku memandang dari segi sudut kebrutalan. Seolah-olah itu adalah suatu hal yang sudah biasa, tidak melihat dari segi sisi, tidak memperdulikan nasib orang lain, masyarakat, bangsa, dan Negara. Sungguh, sangat sulit sekali untuk menilai, melihat, menerawang, dan memahami dari segi kebaikan. Sungguh telah hancur, hancur, dan hancur. Kebenaran…! Ada apa dengan kamu?. Kenapa enkgkau menjauh dari dunia, kenapa engkau biarkan orang-orang terkapar dengan kenistaan, kenapa engkau pergi begitu saja tanpa permisi walau sepatah kata. Apakah engkau sudah tidak peduli dengan nasib umat manusia yang tiap hari makin terpuruk, apakah engkau tidak kasihan dengan nasib mereka. sekarang kepada siapa lagi aku harus bercerita, mengadu, dan berkeluh kesah, sedangkan mereka sudah tidak kenal lagi padaku. Fenomena alam mengatakan “inilah peringatan bagi orang-orang yang lalai, mementingkan ego masing-masing, tidak kenal dengan dosa dan neraka, maka jangan heran kalau banyak kejadian aneh pada abad ke 21 sekarang”. Jangan menyesal hidup di abad ini. Lakukan apa yang bisa dilakukan, tinggalkan apa yang memang harus ditinggalkan. Karena nanti hanya akan ada satu pilihan yang harus kita pilih. maka persiapkan diri kita dari sekarang.

Kini pandanganku beralih lagi. Kehawatiran sudah menjadi barang yang langka, sulit dicari, dan ditemukan. Kehawatiran, ketakutan, dan kesadaran bukan lagi obyek kepuasan dalam meraih cita-cita. Orang-orang sekarang bersuka-ria dengan kelalaian amanat yang diberikannya. Keberanian muncul dengan nafsu, amarah, iri, dan dengki. Pada akhirnya menimbulkan berbagai polemik yang berkepanjangan. Aku bersandar sambil menghelakan nafas dalam-dalam dan berpikir “inilah dunia sekarang yang tinggal sisa-sisa kegelapan dengan cahaya yang redup, sehingga orang-orang sulit membaca”. Mata orang miskin mengatakan “jalani hidup apa adanya” dan mata orang kaya mengatakan “bagaimana solusi untuk hidup”. Pintu-pintu surga tertutup dalam hati dan pintu-pintu neraka terbuka lebar dalam nafsu.
  
Kini pandanganku penuh harapan akan arti sebuah kebijakan yang terlaksana, dan semoga itu bisa terwujudkan untuk menuju sebuah kepedulian umat manusia.

Sabtu, 30 April 2011

“Ketika Malaikat Merenung”

Lihat, aku sudah mendoakannya
Lihat, aku sudah membawakan amalnya
Lihat, aku juga sudah mendudukannya
Berbeda dengan yang lain sehingga,
akupun iri melihatnya

Tapi apa salahku dengan semua ini
Sehingga mereka layaknya macan-macan,
yang  tidak merasa malu dan risi dengan
sekitarnya, Sedangkan aku malu melaporkan
pada sang tuan

Inikah balasan bagi seorang hamba
Karena aku bukan perubah yang bisa merubah,
Selayaknya aku hanya bisa menangis melihat,
 abdi tuanku yang aku sanjungi, aku kagumi,
dan aku hormati bersimbah darah kemunafikan.
("_") Apabila Cinta Bertalikan Tuhan 

“Terlalu berat untuk dijadikan memori… menyimpan berbagai kenangan, yang berujung pada sebuah kisah drama yang tak memiliki judul…karena hanya sebuah perasaan, ucapan, dan ungkapan untuk menghibur tulang  rapuh”

“…mencoba untuk meramu sepenggal harapan dunia para sufi, malaikat, dan nabi, agar supaya tercipta cinta dan kasih sayang darimu, wahai zdat pemilik cintanya dalam kosmos..”

“...Apakah perasaan itu adalah sebuah halusinasi, yang hadir hanya untuk setangkai Rose. Bunga tanda cinta kasih pada sang pujaan, tapi apa itu cukup, hanya karena bunga itu terjalin sebuah hubungan yang harmonis”

“…janganlah menangis karena cinta, tapi menangis karena tanpa cinta. Mungkin cinta yang harus menjawab, apakah harus menangis atau tidak?, tapi coba pakailah pakaian yang pantas untuk cinta”

“Naluri selalu menjawab, namun tidak untuk diperjual belikan. Di kala naluri harus mendeskripsikan sebuah berlian…, tinggal bagaimana apakah dia mampu mencoba menerangkannya”

“Sekiranya batu bisa berbicara layaknya manusia, apakah batu itu mampu menanggung jawaban yang harus dijawab. Walaupun pepatah mengatakan “sekeras-kerasnya batu lama kelamaan akan terlubangi juga”

“Apa yang telah dicintai laksana seorang anak tak henti-hentinya mencintai… Dan, mengawetkannya tidak cukup hanya sebuah ucapan, tapi keyakinan yang harus ditumbuhkan”

“Kemarin adalah sejarah di dunia ini, dan, saatnya untuk menjelmakan mimpi… dari kematian… Kemarin adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… menjelma menjadi sebuah rangkuman yang masih harus dijawab. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilas pandang, sepatah kata, sebuah harapan dan… sekeping impian”