Senin, 31 Oktober 2011

"SELIRAMU"


Janten was-was marang seliramu
sing dikarepke awakmu niku awakku
tapi kepripun malih, mpean mboten kerso
nggih kulo mboten biso mekso

namung, ati terlanjur tresno
jalaran sampun kapekso neng jero dodo
kulo nggih sadar, mpean niku sopo
nopo malih kulo nggih sopo...

tapi mboten nopo-nopo...
mungkin niki salahku sing mekso
mboten ati-ati marang saliramu penambat ati
soale kulo sampun mboten kiat marang seliramu...

Ngapuro yo cah ayu...?

IMD, 31/10/2011

Minggu, 23 Oktober 2011

Lika-Liku Kisah Petualangan Mencari Cinta 
 
Waktu begitu cepat berlalu rupanya, tak terasa, dulu aku masih asyik dan senang bermain petak umpat dengan teman-teman. Baik waktu siang maupun malam ketika mengaji di masjid atau ketika ada acara Maulid nabi Muhammad SAW. Kami, yang masih anak kecil sangat senang ketika ada acara Maulid Nabi atau acara yang lain. Kami senang bukan karena mau mengaji atau menyimak pengajian itu, maklumlah masih anak kecil, inginnya main… terus, tidak kenal waktu, yang ada di otak kami Cuma bermain dan bermain sperti yang di acara TV sekarang “Si BOLANG” dan acara yang lain. Asyik kan kalau melihat mereka bermain. Berbagai macam mainan tradisional di mainkan… mulai dengan berenang bareng di kali, prosotan, dan main petak umpat. Sebagaimana aku dulu. Aku sangat senang sekali bermain dengan teman-temanku, entah bermain tembak-tembakan di sawah kalau lagi musim kemarau, berenang di kali, dan sepak bola di lapangan sekolah… asyik… sekali kalau mengingat waktu itu, terasa tidak punya beban.

Aku dulu adalah pengembala kambing, sebagaimana teman-temanku juga kebanyakan pengembala kambing, jadi kalau mencari makanan buat kambing, kita cari bersama-sama. Sebelum mencari rumput dan yang lainnya aku dan kawan-kawan biasanya bermain di kali untuk berenang bersama. Hal itu jadi mengingatkanku ketika itu aku hampir mau tenggelam, hampir saja, tapi salah satu temanku ada yang jago berenang… Alhamdulillah aku bisa diselamatkan… Memang diantara teman-teman Cuma aku yang tidak bisa berenang, aneh memang anak pantai ko tidak bisa berenang. Ah, mau gimana lagi, sudah berkali-kali mencoba tetap aja tidak bisa…!, Pikirku waktu itu. Bisa sih…. Cuman gaya tenggelam… heee. Mengingat masa itu, aku jadi ingin kembali ke masa itu… betapa nikmat waktu itu, eh ternyata sekarang tinggal kenangan, yang belum tentu anak, cucuku akan mengalami seperti itu. Masya Allah, memang Allah sudah mengaturnya sedemikian rapinya dan sangat unik.

Tak terasa usia semakin bertambah, aku memasuki kelas enam SD. Kalau mengingat kelas SD jaman saya sekolah sama sekarang sangat jauh sekali. Kalau dulu ketika aku sekolah SD, anak-anaknya gede-gede banget, ya kalau dibandingkan dengan sekarang mah udah SMP Kelas tiga an lah. Makanya, deket sama satu cewe sekalas aja dibilangin pacaran. Tapi kalau jaman waktu aku sekolah, kami malu-malu, apalagi kalau di gosipin pacaran, wah tambah malu sekali, kadang malah tidak masuk sekolah karena gara-gara di gosipin kaya gitu. Tapi ada juga sih yang tidak malu. Kebanyakan yang tidak malu itu, habis lulus SD langsung pada nikah… Oh my God, betapa herannya kalau mengingat waktu itu. Termasuk aku juga pernah di gosipin… hee. Eh jangan salah…!, gini-gini ada yang naksir juga loh. Namanya juga SD tau sendiri lah… malu-malu kucing.. hee. Tapi waktu itu memang aku belum begitu respon tentang hal begituan… jadi ya aku cuek aja. Eh, ternyata yang naksir malah nikah sama teman sendiri… hee. Jadi pengin ketawa “Lulus SD nikah”.

Suatu hari tidak sengaja aku dan teman-teman berbincang-bincang, mengenai masalah nikah. wah masih SD sudah ngomongin nikah, weleh weleh... Ya kenapa? Aku jawab begitu aja.  Kata temanku… Eh man, kamu sebenarnya mau nikah engga sih….?. Waduh, ko nanyanya gitu. Ya aku jawab aja “engga ah, buat apa nikah, aku tidak mau nikah sampai kapanpun” padahal dalam hati si… “Ya mau lah…. Sapa si yang engga mau nikah”. Ah serius kamu “ kata temanku”. Heee, kalau masalah serius, aku anti… takutnya nanti pengin nikah…. Jawabku. Alah… jawab aja mau, make alasan aja kamu “jawab temanku”. Bagaimana nanti lah… lagian masih kecil, sunat aja belum sudah mikirin kawin, kamu ini ana-ana bae…! Jawabku. Heee, ya kan pengin tau aja… sergah temanku segera.  

Detik-detik terakhir kami di sekolah SD.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Besok, kami akan menghadapi UN (Ujian Nasional), yang mana habis itu tentunya kami akan berpisah sama teman-teman seperjuangan, baik yang jauh maupun yang dekat, ada juga teman sekolah sekaligus teman di rumah… Ujian akhirnya selesai kami laksanakan. Aku akhirnya lulus dengan nilai nem yang pas-pasan… maklum lah, anak pas-pasan… apa-apa juga pas-pasan… tapi aku terima dengan senang hati. Sebagaimana teman-teman juga meneriman dengan senang hati. Oh iya, sebelum UN Aku di sunat dulu, jadi waktu Ujian habis di sunat, heee. Setelah itu, ada kabar… katanya ada salah satu teman ada yang mau menikah. Pasti cewe! Kataku. Benar, selang beberapa hari ada yang ngasih tau kalau yang mau nikah itu Larasati hee, sory nama samaran lupa. Besok tanggal 25 resepsi acaranya. Salah satu temanku nanya, Muslih namanya. “Man, kowe arep teka ora maring acarane pernikahan Laras”. Mbuh lih, aku bingung… apa pantes dewek kondangan, wong biasane be kondangan sepitan.. jawabku dengan santai. Muslih juga kebingungan ternyata. Ya wes, ora usah teka bae lah ya… isin…!. Ya kue, aku bae be isin…!. Ya wes lah ora usah teka, mengko malah darani apa… aku menimpali kata muslih.

Setelah aku menerima ijazah, aku pun akhirnya pindah ke rumah eyang, disana aku melanjutkan sekolahku di SMP YA BAKI II KESUGIHAN.

If You're The One

In silence,
I always remember you ...
In the far distance,
I'm always thinking bout you ...
In common parlance,
It's very difficult to tell you
or show how great my feelings to you...
One moment, let the time answers
That you're, the one in my heart ...  

I just believe in God
and entrust you to Him

I'm sure,
if you're the one
you will come back to me

*It may not seem like I dont care
because I'm not showing it,
but inside there are so many thoughts
that you will never know of*

Sabtu, 22 Oktober 2011

:: Tega ::

Tega
      ga
         ga
            ga
                ga
                    ga
                       ga
                          ga
                              ga !
sekali..............................!
huh pait, mbae wonten penaware mboten jamue...
...................................................................?
waduh mba mas mboten enten penaware...
....................................... niki khusus mas....!
mase nyuwune niku....................... ya kulo kasih niku
iya..., tapi sing wonten penaware kali......!
Ah mbae tega banget....!
Oh nyuwun sewu mas.... kulo salah ngasih jamue...
Oh... pantesan... piye toh mba... mba...
Nyuwun sewu yo mas yo............................ ......!
Nggih sami-sami... awas ampun keleru malih.... upami
kulo tumbas maleh....
nggih mas..... monggo....
ya monggo.........
 -::-  Jangan Bersedih 
Seperti dalam lamunanku dulu....
aku ingin kau hadir selamanya didepanku
bukan untuk sekedar, tapi untuk selamanya
karena itu yang terbaik menurut aku

bila,

harus memaknai arti kata berulang-ulang
ujung-ujungnya belum tentu mengenang disanubari
sedangkan aku butuh kata yang tersimpan dan dijaga
jangan sampai kepercayan menjadi kotor oleh setetes tinta

Kalu,

waktu diulang kembali, belum tentu seperti dulu lagi
lebih baik menata waktu yang ada agar lebih baik dari sebelumnya
Supaya ada kehidupan disana, bukan sekedar impian tapi realita
atas kepercayaan yang mungkin kita tumbuhkan bersama-sama

kalaulah,

berjauhan, kenapa harus menagis.....
kan ada Allah yang selalu menjaga dan melihatmu
maka mintalah perlindungan kepadanya agar tambah yakin
kemudian meminta agar menjadi pribadi yang sholehah

Ingat, jodoh ditangan sang Khalik....
kalau beliau menginginkannya pasti terjadi..

Rabu, 19 Oktober 2011

-::- Tahajud Cinta Seorang Pemuda
 Bismillaahirrahmaanirrahiim

Yaa Allah...
... Aku ingin bercerita sedikit tentang kegundahanku akhir akhir ini.
Aku merasa Engkau telah mengacuhkanku, dan aku tidak menghendakinya pula...
Karena aku juga mencintai-Mu...

Jujur aku malu, namun setelah aku fikir kembali
Aku harus mengatakannya, meski Engkau tlah mengetahuinya sebelumku bercerita.
Aku harus utarakan ini, karena aku harus menjelaskan kesalah pahaman ini secepatnya.

Yaa Allahku...
Saat aku terjaga dari tidurku kemarin malam.
Kusaksikan wajah teduhnya begitu menentramkan
Dalam tidur pulasnya, kulihat ia begitu memesonakan
Dan kuakui, sejenak hatiku tlah tertawan

Ya Allahku... wahai pemilik sifat paling rahman
Aku...
Aku...
Aku...
Ah, aku malu sekali
Aku sangat takut Engkau marah dan pergi

Yaa Allah, pemilik sifat pengampun yang tak tertandingi
Dalam tidurnya semalam, tlah kuberanikan diriku tuk mencium keningnya...
Jujur, aku pun ingin mencium bibirnya
karena kutahu ia takkan menolaknya...
Namun kusaksikan kemarahan-Mu di wajahnya
Kulihat Engkau begitu masam memandangku yang hina dina..

Wahai Allah, sang pemiliki cinta...
Aku terkadang berfikir, apakah aku salah memiliki cinta yang Engkau anugerahkan.
Aku juga berfikir, mengapa ada ketentuan untuk sebuah pertemuan
Sedang Engkau tak menyukai apa yang kami lakukan dari pertemuan yang Engkau tetapkan
Yaa Allah...
Mengapa demikian?

....
....
....
....

hhhhhhh....

Astaghfirullaahal 'adziim...
Astaghfirullaahal 'adziim...
Astaghfirullaahal 'adziim...

Ampuni aku Yaa Allah...
Hamba tlah lancang, dan tak semestinya hamba menanyakan...
Hamba terlalu naif, dengan mencari pelarian untuk kesalahan yang hamba lakukan

Tersadarlag hamba, bahwa Engkau tlah anugerahkan akal pada hamba...
Dan kiranya hamba tak menggunakannya dengan sebaik baiknya...

Yaa Allah...
Sungguh aku memohon pengertian-Mu atas perkara tak halal atasku...
Sungguh aku mengemis maaf-Mu...
Engkau Maha Mengetahui, termasuk isi hatiku...
Aku hanya mencium keningnya saja Yaa Allah, tidak lebih...!

Yaa Allah, Zat yang aku rindui
Jangan perlakukan aku begini...
Aku memahami akan kecemburuan-Mu ini...
Karena kupahami bahwa hanya nama-Mu lah yang berhak kupuji...

Yaa Allah, Zat yang aku cintai
Kumohon jangan diamkan aku seperti ini...
Aku sedih jika Engkau cuekin seperti ini...
Marahlah...
Asalkan aku bisa peroleh peluk-Mu kembali...
Asalkan aku dapat rasakan dekap-Mu lagi...

Yaa Allah...
Aku tak miliki sesuatu yang berharga untuk mengambil hati-Mu...
Karena aku tentu tak layak saing dengan pemuja-Mu yang lainnya...
Aku pun tak memiliki sesuatu yang lebih berharga dari mereka tuk merayu-Mu...
Hanya dua puluh dua sujud yang kurangkai dalam tahajjud cintaku...
Yang kurangkai bersama mutiara do'a dan pujiku...
Yang kuharapkan bisa Engkau terima Yaa Allahku...

Tak apa, jika Engkau masih memasamkan wajah-Mu...
Namun kuyakin, ada maaf yang Engkau siapkan untukku di sana...
Aku pun yakin bahwa Engkau Tahu bahwa aku sangat mencintai-Mu pula...

Ya Allah...
Demi Engkau, aku hanya mencium keningnya
Demi Engkau, kukatakan bahwa itu hanyalah kekhilafanku sesaat semata.

hhhh...

Aku tak mampu berkata banyak Yaa Allah
Maafkan Aku...
Dan buat engkau, wahai kekasih hatiku...
Maafkan aku yang menzalimimu semalam...

hhhhh....
Kiranya aku telah terpenjara dalam putaran cinta yang kubuat sendiri.....

Dari : Curahan hati Petra, Untuk Novel Kupilih Dermaga-Mu Untuk Pelabuhan Cintaku.

:: Tanda Tanya… ::


Setitik embun membasahi malam, kala waktu terus bertanya pada sang pencipta
terpandang hati yang lembut kurasa disana, tapi belum merasa kau ada
sekedar saja, penat ini terasa menghilang begitu saja
mengarungi cakrawala hitam disanubari yang lemah

Aku tak berdaya….
Bila aku harus menatap pelangi, padahal itu hiasan
Yang seharusnya aku senang dan bahagia bersama pelangi itu
Tapi entah kenapa aku malu pada diri sendiri bersama pelangi itu

Apakah ini sebuah tanda… atau sekedar ilusi….?
Tanda karena aku terlalu berharap pada pelangi itu
Atau ilusi karena aku ini orang yang suka berimajinasi tinggi
Sehingga aku berpikiran yang terlalu jauh bersama pelangi itu

Oh tidak.

Sadarkan aku, wahai Allah Rabbku, pemilik jagad raya ini
Jangan sampai hambamu ini salah arah, jalan, dan tujuan
Aku hanya hamba biasa, yang tentunya masih banyak kekurangan
Jagalah aku, dan rawatlah aku, sehingga aku tumbuh menjadi pribadi yang engkau kasihi

Kalaulah ada, sekiranya pelangi atau kupu-kupu istana yang baik buatku
Sekiranya engkau tau, mana yang lebih baik untuk memadu kasih denganmu
Semoga engkau selalu meridhai jalan-jalan orang shaleh….

Syukran, ya rabb….?

:: Doa diberikan Istri Sholehah :







Ya Allah…, sang pemilik hati para makhluk

Izinkanlah hamba mengadu kasih sayangmu, yang kadang naik kadang juga turun
Memenuhi jiwa yang termakan nafsu

Oleh,

bayang-bayang semu penyayat hati,
sekiranya baik, Maka berikanlah dan sekiranya buruk maka singkirkanlah

kau,

yang mengerti pada kebodohan hambamu
yang mengasihi atas kelalaian akan nikmatmu
yang menghargai seseorang dimatamu dan makhluk…

Ya Allah…, sang pemilik cinta kasih

Berikanlah kepada hamba cinta seorang hamba,
yang dengan wajahnya dia malu akan murkamu
yang dengan tangannya selalu berdoa untukmu
yang dengan tubuhnya selalu bersujud kewajibanmu
yang dengan kakinya selalu langkahkan untuk mencari ridhamu
yang dengan hatinya selalu berdzikir kapan dan dimanapun ia berada
yang dengan lisannya selalu memberikan pencerahan bagi yang lain
yang dengan sikapnya selalau mewarnai sekitar sekelilingnya

cara berpikir,

tidak lain dan tidak bukan selalu bersandar pada Kitabullah dan sunnah rasul
yang dengannya, menjadi penghias taman-taman surga, yang mengalir dibawahnya
sunga-sungai yang mengalir air susu, penyejuk dan mencerahkan bagi pendampingnya kelak.

Jumat, 14 Oktober 2011

Tiga Kisah Lima Sahabat

dakwatuna.com - “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah: 245)

Suatu ketika Rasulullah saw. membacakan ayat itu kepada para sahabat. Tiba-tiba Abu Darda r.a. berdiri, ia berkata, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.” Abu Darda kembali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.”

“Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda,” pinta Abu Darda r.a. tiba-tiba. Rasulullah saw. balik bertanya, “Untuk apa?” Lalu Abu Darda menjelaskan, “Aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pun yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah.” “Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Darda,” kata Rasulullah saw.

Abu Darda mengucapkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.

“Wahai Ummu Darda, wahai Ummu Darda! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!” teriak Abu Darda.

Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah saw. Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada di dalam mulut anaknya. “Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah swt. Ladang ini sudah menjadi milik Allah swt.,” ujarnya kepada sang anak.

Subhanallah! Begitulah Ummu Darda, seorang wanita yang begitu yakin rezki datang dari Allah swt. dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang begitu yakin akan janji Allah swt. Kalau saja para suami zaman ini punya istri seperti Ummu Darda, pasti mereka akan mudah saja berinfak tanpa berpikir dua kali. Kalau saja para istri zaman sekarang punya suami model Abu Darda, pasti mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Allah.

Sekarang simaklah kisah kedua ini. Suatu hari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab r.a. dikirimi harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya. “Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,” begitu perintah Umar kepadanya.

Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubaidah, ia berkata, “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, ‘Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki’.”

Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat.” Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya. “Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!.” Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.

Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar empat ratus dirham seraya berkata, “Berikan harta ini kepada Muadz bin Jabal!” Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.

Muadz memanggil hamba sahayanya. “Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis sama sekali di bagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah, lalu berkata, “Demi Allah, aku juga miskin.” Muadz berkata, “Ambillah dua dirham saja.”

Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham, lalu berkata, “Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!” Ternyata Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang pembantu kepada Umar. Kemudian Umar menangis dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”

Begitulah para sahabat ketika mendapat harta. Tidak sampai sehari harta itu diinfakkan dengan begitu ringannya.

Yang ini kisah ketiga. Munginkah kita bisa mencontohnya?

Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah r.a. pulang ke rumah dengan membawa uang sebanyak seratus ribu dirham. Istrinya mendapati raut wajah Thalhah begitu bersedih.

Sang istri bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai suamiku?” Thalhah menjawab, “Harta yang banyak ini, aku takut jika bertemu dengan Allah, lalu aku ditanya tentang dirham ini satu per satu.”

Istrinya lalu berkata, “Ini masalah yang sangat mudah. Mari kita bagi-bagikan harta ini. Bawalah harta ini dan bagikan kepada para fakir miskin yang ada di Kota Madinah.”

Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu di sebuah wadah, lalu membagi-bagikan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu ia kembali ke rumah dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam keadaan bersih dan suci.”

Subhanallah! Sungguh mereka orang-orang langit yang ringan melepas dunia