-::- Sayup-sayup Kehidupan
Sejenak aku heran, sejenak aku bingung, dan sejenak aku bosan. Melihat kehidupan semakin hari semakin rapuh di terpa oleh nilai-nilai adat yang tercampur dengan kepuasan nafsu, amarah, iri dan dengki. Berbagai macam perlik kehidupan sudah tidak memandang busuk atau tidaknya. Sebuah harapan jadi sia-sia bagi orang beriman dan sebuah kemenangan bagi orang sesat.
Sejenak aku heran, sejenak aku bingung, dan sejenak aku bosan. Melihat kehidupan semakin hari semakin rapuh di terpa oleh nilai-nilai adat yang tercampur dengan kepuasan nafsu, amarah, iri dan dengki. Berbagai macam perlik kehidupan sudah tidak memandang busuk atau tidaknya. Sebuah harapan jadi sia-sia bagi orang beriman dan sebuah kemenangan bagi orang sesat.
Mentari pagi perlahan-lahan naik di sebelah timur, mengeluarkan segenap cahaya menyinari bumi yang penuh dengan fenomena, kemudian tiba-tiba awan datang menyelimuti sebagian alam, maka timbulah hujan. Sebagian orang menyambut gembira dan sebagian yang lain menyambut dengan sedih. Orang-orang yang menyambut gembira itu tidak peduli dengan apa yang dibuatnya, mereka hanya peduli terhadap sesama, sehingga berbagai macam cara mereka lakukan untuk mendapatkanny, baik buruknya tidak diperdulikan oleh mereka. Kemudian kehidupan mereka berubah, kehidupan yang enak, berbagaia macam kebutuhan terpenuhi, namun selang beberapa waktu kemudian musnah binasa dengan seketika. Akhirnya, orang-orang yang sedih jadi tertawa, mereka terhibur dengan perilaku orang-orang yang menyambut dengan gembira, seolah-olah meraka habis menyaksikan parade Opra yang baru di pentaskan.
“Ha ha ha” aku jadi ikut tertawa. Apakah ini sebuah hinaan? Atau sebuah sindiran sebagai orang yang sedih. Ah, siapa bilang?. Aku tidak menertawakan mereka, Aku hanya mengekspresikan jiwa yang terpendam, apa itu salah?.
Kini pandanganku berpindah haluan. Aku melihat patung hidup, bergerak kesana kemari tanpa malu memakainya, sehingga aku sendiri malu untuk melihatnya. Kenapa patung itu bisa berpakaian seperti itu, berbuat yang seharusnya tidak diperbuat olehnya, apakah mereka tidak sadar? atau memang cara seperti itu hidup mereka?. Aku bingung untuk menilai gaya patung itu, karena ada dua pilihan kategori yang harus aku pilih, dari segi norma atau adat?. Kalau aku lihat dari segi Norma jelas, itu melanggar etika norma keagamaan, kalau aku lihat dari segi adat, dari manakah adat istiadat seperti itu?. Aneh kenapa adat seperti itu, yang patung ambil. Kadang aku sendiri berpikir, apa yang akan mereka pertanggung jawabkan untuk menebus cara hidup mereka? apakah mereka bisa selamat.
Kini norma, etika, dan kesopanan hanyalah symbol. Orang-orang mengatakan “kamu deso, katro, kuper” kalau tidak mengikuti perkembangan zaman. Kemudian mereka bergaya tanpa bercermin, seolah-olah dirinyalah cerminan dari yang lain. Ketika symbol bicara, mereka jadi tuli, acuh tak acuh dengan apa yang mereka buat, padahal mereka sadar. Di luar sana setan menari-nari dengan senangnya, mereka tidak perlu susah payah lagi untuk menggodanya. Sekarang mereka benar-benar lalai akan kewajibannya sebagai makhluk dimuka bumi, bertindak sesuka hati, sikat sana sikat sini asal bisa mereka dapatkan. Sungguh malang nasib orang-orang itu. Kini mereka dalam kesengsaran.
Kini aku memandang dari segi sudut kebrutalan. Seolah-olah itu adalah suatu hal yang sudah biasa, tidak melihat dari segi sisi, tidak memperdulikan nasib orang lain, masyarakat, bangsa, dan Negara. Sungguh, sangat sulit sekali untuk menilai, melihat, menerawang, dan memahami dari segi kebaikan. Sungguh telah hancur, hancur, dan hancur. Kebenaran…! Ada apa dengan kamu?. Kenapa enkgkau menjauh dari dunia, kenapa engkau biarkan orang-orang terkapar dengan kenistaan, kenapa engkau pergi begitu saja tanpa permisi walau sepatah kata. Apakah engkau sudah tidak peduli dengan nasib umat manusia yang tiap hari makin terpuruk, apakah engkau tidak kasihan dengan nasib mereka. sekarang kepada siapa lagi aku harus bercerita, mengadu, dan berkeluh kesah, sedangkan mereka sudah tidak kenal lagi padaku. Fenomena alam mengatakan “inilah peringatan bagi orang-orang yang lalai, mementingkan ego masing-masing, tidak kenal dengan dosa dan neraka, maka jangan heran kalau banyak kejadian aneh pada abad ke 21 sekarang”. Jangan menyesal hidup di abad ini. Lakukan apa yang bisa dilakukan, tinggalkan apa yang memang harus ditinggalkan. Karena nanti hanya akan ada satu pilihan yang harus kita pilih. maka persiapkan diri kita dari sekarang.
Kini pandanganku beralih lagi. Kehawatiran sudah menjadi barang yang langka, sulit dicari, dan ditemukan. Kehawatiran, ketakutan, dan kesadaran bukan lagi obyek kepuasan dalam meraih cita-cita. Orang-orang sekarang bersuka-ria dengan kelalaian amanat yang diberikannya. Keberanian muncul dengan nafsu, amarah, iri, dan dengki. Pada akhirnya menimbulkan berbagai polemik yang berkepanjangan. Aku bersandar sambil menghelakan nafas dalam-dalam dan berpikir “inilah dunia sekarang yang tinggal sisa-sisa kegelapan dengan cahaya yang redup, sehingga orang-orang sulit membaca”. Mata orang miskin mengatakan “jalani hidup apa adanya” dan mata orang kaya mengatakan “bagaimana solusi untuk hidup”. Pintu-pintu surga tertutup dalam hati dan pintu-pintu neraka terbuka lebar dalam nafsu.
Kini pandanganku penuh harapan akan arti sebuah kebijakan yang terlaksana, dan semoga itu bisa terwujudkan untuk menuju sebuah kepedulian umat manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar