Sabtu, 30 April 2011

“Ketika Malaikat Merenung”

Lihat, aku sudah mendoakannya
Lihat, aku sudah membawakan amalnya
Lihat, aku juga sudah mendudukannya
Berbeda dengan yang lain sehingga,
akupun iri melihatnya

Tapi apa salahku dengan semua ini
Sehingga mereka layaknya macan-macan,
yang  tidak merasa malu dan risi dengan
sekitarnya, Sedangkan aku malu melaporkan
pada sang tuan

Inikah balasan bagi seorang hamba
Karena aku bukan perubah yang bisa merubah,
Selayaknya aku hanya bisa menangis melihat,
 abdi tuanku yang aku sanjungi, aku kagumi,
dan aku hormati bersimbah darah kemunafikan.
("_") Apabila Cinta Bertalikan Tuhan 

“Terlalu berat untuk dijadikan memori… menyimpan berbagai kenangan, yang berujung pada sebuah kisah drama yang tak memiliki judul…karena hanya sebuah perasaan, ucapan, dan ungkapan untuk menghibur tulang  rapuh”

“…mencoba untuk meramu sepenggal harapan dunia para sufi, malaikat, dan nabi, agar supaya tercipta cinta dan kasih sayang darimu, wahai zdat pemilik cintanya dalam kosmos..”

“...Apakah perasaan itu adalah sebuah halusinasi, yang hadir hanya untuk setangkai Rose. Bunga tanda cinta kasih pada sang pujaan, tapi apa itu cukup, hanya karena bunga itu terjalin sebuah hubungan yang harmonis”

“…janganlah menangis karena cinta, tapi menangis karena tanpa cinta. Mungkin cinta yang harus menjawab, apakah harus menangis atau tidak?, tapi coba pakailah pakaian yang pantas untuk cinta”

“Naluri selalu menjawab, namun tidak untuk diperjual belikan. Di kala naluri harus mendeskripsikan sebuah berlian…, tinggal bagaimana apakah dia mampu mencoba menerangkannya”

“Sekiranya batu bisa berbicara layaknya manusia, apakah batu itu mampu menanggung jawaban yang harus dijawab. Walaupun pepatah mengatakan “sekeras-kerasnya batu lama kelamaan akan terlubangi juga”

“Apa yang telah dicintai laksana seorang anak tak henti-hentinya mencintai… Dan, mengawetkannya tidak cukup hanya sebuah ucapan, tapi keyakinan yang harus ditumbuhkan”

“Kemarin adalah sejarah di dunia ini, dan, saatnya untuk menjelmakan mimpi… dari kematian… Kemarin adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… menjelma menjadi sebuah rangkuman yang masih harus dijawab. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilas pandang, sepatah kata, sebuah harapan dan… sekeping impian”