Ini adalah kutipan-kutipan senja dan pagi yang aku campurkan tiap hari. Sisa-sisa aku menangis, senang, letih, lesu, dan tak bergairah menjalani tatanan kehidupan dunia. Seringkali aku menggores dan menancabkan pisau ke dalam hatiku. Aku ingin tenang, aku ingin lebih menikmati keringanan dalam hidup, aku ingin membuang kebencian-kebencian tak bertuan bersarang didadaku,dan juga aku ingin membuang jauh-jauh rasa buruk menimpaku setiap hari. Itu tidak lain supaya apa yang aku makan segar dan menyejukkan hati.
Anak-anak menangis, tertawa, dan mencanda menjadi hidangan. Teriakan-teriakan yang silih berganti aku telan sehingga aku jadi lusuh dan layu. Tidak seperti daun-daun segar menikmati indahnya pagi hari atau sore hari. Gedung-gedung yang megah menjadi teman bisuku setiap hari. Kadang menghiburku kadang menikamku seperti preman mangkir dipinggir jalan. Aneh tapi berkelanjutan. Tapi sudahlah buat apa memikirkan yang bukan hak membuat hati dengki saja.
Garam-garam di dapur aku tumbuk kemudian aku makan setiap hari. Tidak mengapa untuk mengganjal perut karena itu sudah menjadi hal biasa. Aku tidak ingin merepotkan orang lain apalagi menjadikannya merasa resah. Biar aku menjadi penikmat rasa garam walaupun ternyata banyak gula diwarung-warung ataupun ditoko-toko yang penting Allah SWT Tuhan-ku sayang padaku dan semoga selalu demikian. Kadang aku malu sendiri karena sudah berbuat dosa dengan sengaja pada-Nya tapi aku sendiri merasa biasa-biasa saja. Ya Allah ampuni hambamu yang lemah ini.
Api walaupun panas tapi menemaniku juga setiap hari. Kadang merasa senang tapi kadang membakar juga dengan tidak sengaja. Tidak harus menyesal terbakar karena tugasnya api memang membakar. Aku hanya bisa maklum saja, aku tidak ingin terlarut dalam panasnya, cuman aku hanya tidak ingin panasnya membakar waktuku saja. Aku sendiri tidak ahli dalam memadamkan api apalagi api yang membakar diri sendiri. Biarkan saja api menyala nanti sudah waktunya juga padam. Tidak mudah memang tapi itu yang harus dilakukan, sehingga selamat dari kobaran api.
Semoga MUHASABAH ini menjadiakn Aku benci karena Allah sehingga aku cinta juga karena Allah. Aamiin ya rabbal 'alamin.
Anak-anak menangis, tertawa, dan mencanda menjadi hidangan. Teriakan-teriakan yang silih berganti aku telan sehingga aku jadi lusuh dan layu. Tidak seperti daun-daun segar menikmati indahnya pagi hari atau sore hari. Gedung-gedung yang megah menjadi teman bisuku setiap hari. Kadang menghiburku kadang menikamku seperti preman mangkir dipinggir jalan. Aneh tapi berkelanjutan. Tapi sudahlah buat apa memikirkan yang bukan hak membuat hati dengki saja.
Garam-garam di dapur aku tumbuk kemudian aku makan setiap hari. Tidak mengapa untuk mengganjal perut karena itu sudah menjadi hal biasa. Aku tidak ingin merepotkan orang lain apalagi menjadikannya merasa resah. Biar aku menjadi penikmat rasa garam walaupun ternyata banyak gula diwarung-warung ataupun ditoko-toko yang penting Allah SWT Tuhan-ku sayang padaku dan semoga selalu demikian. Kadang aku malu sendiri karena sudah berbuat dosa dengan sengaja pada-Nya tapi aku sendiri merasa biasa-biasa saja. Ya Allah ampuni hambamu yang lemah ini.
Api walaupun panas tapi menemaniku juga setiap hari. Kadang merasa senang tapi kadang membakar juga dengan tidak sengaja. Tidak harus menyesal terbakar karena tugasnya api memang membakar. Aku hanya bisa maklum saja, aku tidak ingin terlarut dalam panasnya, cuman aku hanya tidak ingin panasnya membakar waktuku saja. Aku sendiri tidak ahli dalam memadamkan api apalagi api yang membakar diri sendiri. Biarkan saja api menyala nanti sudah waktunya juga padam. Tidak mudah memang tapi itu yang harus dilakukan, sehingga selamat dari kobaran api.
Semoga MUHASABAH ini menjadiakn Aku benci karena Allah sehingga aku cinta juga karena Allah. Aamiin ya rabbal 'alamin.


